Gaji dan Uang Pensiun PNS
Bebani Keuangan Negara
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan,
anggaran belanja gaji dan pensiun pegawai negeri sipil (PNS) di tahun depan
melonjak. Bahkan kenaikannya lebih besar dari anggaran belanja modal negara.
Dalam rapat di DPR, pemerintah sudah mendapat persetujuan kenaikan belanja pegawai Rp 31 triliun dari Rp 233 triliun di APBN 2013 menjadi Rp 264 triliun pada tahun depan.
Dalam rapat di DPR, pemerintah sudah mendapat persetujuan kenaikan belanja pegawai Rp 31 triliun dari Rp 233 triliun di APBN 2013 menjadi Rp 264 triliun pada tahun depan.
"Jadi dalam belanja pegawai ini ada dua
komponen, yaitu belanja gaji dan pensiun. Nanti bisa dilihat besarnya belanja
pensiun ini makin besar jadi beban belanja pegawai," kata Bambang saat
konferensi pers APBN 2014 di kantornya, Jakarta, Senin (28/10/2013).
Ia menambahkan, kenaikan belanja pegawai tersebut
memang melebihi kenaikan belanja modal di APBN 2014 yang hanya sebesar Rp 13,2
triliun. Sementara itu, belanja modal yang disiapkan untuk pembangunan
infrastruktur ini dipatok sebesar Rp 205,8 triliun, naik dari sebelumnya Rp
192,6 triliun di APBN 2013. Di sisi lain, pemerintah juga menurunkan anggaran
belanja barang yang sebesar Rp 4,6 triliun menjadi Rp 201,9 triliun.
Di tempat yang sama, Plt Direktur Jenderal Anggaran
Kementerian Keuangan, Askolani menambahkan, pemerintah akan mengalokasikan
belanja pegawai di tahun depan sebesar Rp 264 triliun dan akan dialokasikan ke
tiga pos besar yaitu gaji dan tunjangan pegawai dengan alokasi Rp 120 triliun,
honorarium vakansi dan lembur Rp 53 triliun serta anggaran pensiun dan jaminan
kesehatan pegawai sebesar Rp 90 triliun. Kenaikan anggaran itu, kata Askolani,
telah memperhitungkan kenaikan gaji pokok PNS rata-rata 6 persen, kenaikan
pensiun pokok 4 persen dan pemberian gaji serta pensiun bulan ke-13.
"Pemerintah akan evaluasi perjalanan dinas, honorarium dan kegiatan konsinyering dan semacamnya. Ini demi pengendalian untuk kemudian penghematan di internal pemerintah," kata Askolani.
"Pemerintah akan evaluasi perjalanan dinas, honorarium dan kegiatan konsinyering dan semacamnya. Ini demi pengendalian untuk kemudian penghematan di internal pemerintah," kata Askolani.
Analisa:
APBN
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) adalah kebijakan fiskal dalam konteks
pembangunan Indonesia. Dengan adanya APBN, negara dapat memperbaiki berbagai
macam hal yang kurang atau untuk mengembangkan fasilitas negara, seperti bandar
udara, jalan raya, taman kota, dll. APBN didefinisikan sebagai daftar
sistematis yang memuat rencana pengeluaran dan penerimaan negara selama satu
tahun yang dinyatakan dalam nilai rupiah. Landasan Hukum APBN diatur dalam UUD
1945 Pasal 23 ayat 1, menyatakan “Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan
undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan betanggung jawab untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Selain itu juga, APBN memiliki fungsinya
yaitu:
1.
Fungsi alokasi, yaitu fungsi dalam penyediaan barang publik (seperti jembatan, jalan raya,
penerangan, pertahanan, dan keamanan) yang diharapkan menghasilkan dampak
menguntungkan. Misalnya, meningkatnya kegiatan investasi yang sangat dibutuhkan
untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
2.
Fungsi distribusi, yaitu fungsi dalam rangka memperbaiki
distribusi pendapatan masyarakat serta pemerataan pembangunan. Instrumen yang
digunakan adalah pajak dan subsidi, yang dapat mempengaruhi atau mengarahkan
keinginan kerja dan konsumsi masyarakat.
3.
Fungsi Stabilisasi, yaitu fungsi dalam rangka men ciptakan kestabilan ekonomi, pertahanan
keamanan, dan lain-lain.
Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa APBN
memiliki peranan penting untuk pertumbuhan Negara Indonesia. Dan dalam
menjalankan fungsinya, APBN memerlukan sumber daya manusia. Maka, pemerintah
Indonesia memberikan sejumlah uang kepada pegawai negeri untuk menjalankan
fungsi APBN agar dapat mencapai tujuannya, yaitu untuk kemakmuran rakyat.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki peranannya masing-masing dan mendapat upah
dari pekerjaannya tersebut. Akan tetapi, dalam artikel yang saya ambil dari Harian
Kompas ( Senin, 28 Oktober 2013), menyatakan bahwa gaji PNS malah membebani
pengeluaran internal negera. Menurut pendapat saya, PNS banyak yang tidak
menjalankan perannya di pemerintahan menurut pekerjaannya masing-masing.
Contohnya saja, pegawai yang baru-baru diancam akan dipecar oleh Gubernur DKI
Jakarta Jokowi, yaitu Kepala Dinas PU Erri Basworo dan juga berlaku untuk semua
pegawai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) karena melaksanakan pekerjaanya
dengan baik terkait pembuatan gorong-gorong di jalan Gang Hebat, Jakarta.
Bagaimana mungkin seorang PNS dengan mendapat imbalan berupa gaji dari negara
dan mendapat bagian APBN untuk melaksanakan pekerjaanya malah menyalahgunakan
dana tersebut. Hal tersebut juga banyak terjadi kepada guru-guru PNS. Saat libur
Hari Raya sudah selesai, mereka menambah libur bukannya pergi untuk kembali
mengajar disekolah. Padahal, mereka digaji oleh negara untuk mengajar. Saya
berpendapat, bahwa gaji PNS tidak perlu mengalami kenaikan. Pemerintah harus
lebih memperhatikan kinerja PNS agar gaji yang diberikan kepada mereka tidaklah
sia-sia. APBN hendaknya digunakan untuk hal yang lebih berguna, seperti
infrastruktur, fasilitas negara, untuk subsidi kepada masyarakat miskin, dan
memperbaiki keadaan negara. Jika APBN
hanya berat di gaji PNS saja, saya rasa, hal itu hanya sia-sia saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar